Beranda » Human and Science » Terapi Kopi : Pola Dasar Kecerdasan dan Karakter Manusia

Terapi Kopi : Pola Dasar Kecerdasan dan Karakter Manusia

Malam ini saya membaca sebuah artikel menarik terkait mengenai disiplin ilmu yang mengkategorikan manusia berdasarkan kecenderungan otaknya. Dalam artikel yang ditulis oleh Ahmad M. Firdaus, berdasarkan pada penelitian mengenai kecenderungan otak manusia, ada dua jenis manusia yaitu; yang sifatnya konservatif dan sifatnya progresif. Dalam artikel itu sebenarnya, Ahmad Firdaus memfokuskan pembahasan kepada topik pemberitaan politik yang tengah ramai dibicarakan dan diberitakan. Secara lebih jelas bisa dibaca disini.

Tulisan itu sangat mencerahkan dan menarik. Saya pribadi seorang yang aktif dalam kajian Neuro-Science. Kesimpulan akhir pada tulisan di atas…

“Jika benar kasus RS sebagai salah satu bagian dari teknik firehose of falsehood. Maka kasus ini jelas menyasar segmen pemilih konservatif moderat sebagai kelompok yang ditengah dari dua kutub spectrum progresif dan konservatif ini. Memicu aktivasi amygdala ini akan berfungsi utk membuat bimbang kelompok yg ada ditengah. Dimana, selain insula-nya aktif, amygdala-nya masih sedikit lebih dominan.”

Sementara dalam tulisan saya ini, saya tidak ingin membahas mengenai politiknya, melainkan mengenai pengkategorian jenis kecerdasan dan kecenderungan otak manusia.

Berdasarkan penjabaran Ahmad Firdaus dalam artikel itu saya memahami bahwa pembagian kategori ini sering ditinjau sebagai dua karakter penggunaan otak manusia. Yaitu, orang dengan kecenderungan penggunaan otak kiri (konservatif) dan orang dengan kecenderungan otak kanan (progresif). Dari pembagian kecerdasan atau kecenderungan otak ini, kita juga harus mengetahui secara lebih jauh kecenderungan yang ada pada dua kategori ini. Karakter lain bagi orang dengan kecerdasan otak kiri yang konservatif adalah konkrit, materialis, sistematis, teratur dan lain sebagainya. Sedangkan bagi orang dengan kecerdasan otak kanan yang progresif adalah abstrak, idealis, visioner, dan lain sebagainya.

Jika pernyataan ini “Jika benar kasus RS sebagai salah satu bagian dari teknik firehose…..” dibuat berdasarkan apa yang terjadi di Amerika, maka kemungkinannya sangat kecil akan terjadi juga di Indonesia. Sebab secara pola dasar, masyarakat Amerika merupakan orang dengan kecenderungan otak konservatif (imanen/materialis), sementara pola dasar kecenderungan otak masyarakat Indonesia progresif (transenden/idealis).

Orang-orang Amerika dengan kecenderungan otak kiri memiliki kecenderungan menuntut fakta dan data. Maka dari itu dalam pemilihan presiden Amerika yang lalu tentu orang Amerika akan mengedepankan atau memilih orang yang berdasarkan pada konservasi mereka, terhadap apa atau siapa yang dibutuhkan oleh mereka untuk menjalankan pemerintahan Amerika Serikat. Menariknya adalah sebuah kebijakan ekonomi yang dikeluarkan oleh Trump setelah terpilihnya menjadi Presiden Amerika mengalahkan Hillary. Yaitu kebijakan mengenai kerjasama ekonomi antara Washington dann Tiongkok. Kebijakan ini sangat tepat diambil, dan sejak terpilihnya Trump perekonomian AS terus membaik dan tingkat pengangguran masyarakat Amerika mulai berkurang dan mencapai titik terendahnya dari 17 tahun terakhir.

Sejarah baru berhasil diukir oleh sosok Presiden yang kontroversial ini. Kondisi ini membuktikan bahwa perekonomian Amerika Serikat dapat meningkat karena pendapatan negara juga meningkat. Selain itu berkurangnya angka pengangguran yang ada membuat negara ini dapat menjadi semakin berkembang pesat dan maju. Trump berhasil membawa perekonomian Amerika Serikat di grafik yang cukup baik dan terus meningkat. Pertumbuhan ekonomi ini juga terjadi pada ranah bursa saham. Pendukung Trump berpendapat bahwa kebijakan pemotongan pajak perusahaan, mendongkrak saham-saham di Wall Street. Hal ini juga didukung kebijakan Trump yang AS-sentris, serta janji investasi infrastruktur. (Baca disini dan disini)

Ini bukan sebuah kebetulan. Trump adalah seorang pebisnis sukses dan seorang ekonom. (Baca disini)

Masyarakat Amerika mengetahui data dan fakta mengenai siapa yang mereka butuhkan untuk memimpin negeri mereka pada pemilihan kemarin, dan Trump merupakan pilihan yang tepat.

Sementara masyarakat Indonesia yang cenderung kepada otak kanan yang akan menuntut mereka memilih seorang pemimpin yang kecenderungan pandangannya yang visioner, yaitu progresif untuk membangun masa yang akan datang. Jika saja kondisi Indonesia sedang berada diujung tanduk peperangan atau membutuhkan berbagai kebijakan pada ranah pertahanan dan kemananan negara, mungkin yang akan terpilih adalah Prabowo. Dan juga harus mengandalkan banyaknya suara dari karakter pemilih yang konservatif. Namun jika merujuk kepada kondisi pertahanan dan kemanan Indonesia sendiri saat ini, tidak ada yang paling mengganggu kemananan negara kecuali dua hal, pertama adalah penanggulangan terorisme dan penanggulangan koruptor untuk membuat masa depan menjadi lebih baik. Justru permasalahan terbesar Indonesia saat ini hampir sama dengan permasalahan yang sebelumnya terjadi juga di Amerika, yaitu permasalahan Ekonomi. Sebab kenyataannya sudah ada beberapa negara di Asia dan Afrika yang mengalami krisis parah, di antaranya harus berhutang sangat besar kepada Negara lain dan sebagiannya nyaris mengalami kebangkrutan.

Mengenai penanganan terorisme, belakangan pemerintahan Jokowi telah berhasil membubarkan salah satu corong terorisme yang ada di dalam negeri. Ditambah dengan disahkannya UU Terorisme beberapa bulan silam, dan tentunya ke depannya permasalahan ini akan terus menemukan jalan penyelesaiannya. Mengenai penanggulangan koruptor rasanya kita tidak perlu membahas lebih jauh mengenai kebijakan-kebijakan yang telah dilakukan Jokowi pada ranah pembangunan infrastruktur. Selama ini pembangunan infrastruktur terhambat karena banyaknya pembiayaan dan kerjasama yang tak terdata dengan baik, sehingga sangat rentan dengan tindak laku korupsi dari kalangan pejabat negara. Belum lagi mengenai berbagai kasus korupsi yang terkuak di periode ini, dan tentunya keberhasilan pemerintah dalam menaklukan PTFI. Langkah-langkah kebijakan Presiden Jokowi ini mengambil tempat terkuat dalam hati masyarakat Indonesia, terutama jika kita merujuk kepada sudah berapa lama kita tenggelam dalam kerjasama yang sangat merugikan dengan PTFI terkait pengelolaan sumber daya alam di Tanah Irian.

Belum lagi jika mengacu kepada kasus kejadian RS kemarin…? Bagaimana respon masyarakat Indonesia…? Orang dengan kencederungan otak kanan dikenal juga sebagai orang dengan kecerdasan emosional (Emotional Quetiont) walau terkadang akan cenderung menjadi pribadi yang sangat berperasaan. Dengan adanya kasus pembohongan publik kemarin, akan membekas dalam gambaran ingatan dan perasaan masyarakat Indonesia serta menjadi sebuah pelajaran untuk tidak terkena kebohongan-kebohongan lainnya. Dan sudah jelas dalam kebudayaan masyarakat Indonesia bahwa sebuah kebohongan adalah cela dan nista yang tidak mudah untuk dimaafkan. Mungkin, masyarakat Indonesia bisa memaafkan kebohongan tersebut. Namun juga masyarakat tidak akan mau mengambil resiko yang sama dengan mempercayai hal-hal yang datang setelahnya.

Penggambaran pola dasar mengenai karakter dan kecenderungan masyarakat Indonesia yang cenderung pada karakter Progresif yang mengacu kepada penggunaan otak kanan, juga bisa ditinjau berdasarkan kebudayaan masyarakat kita yang cenderung kepada hal-hal yang bersifat meyakini sesuatu yang transenden dan idealis. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi alam yang meliputi, geologi dan arkeologi. Bagaimana bisa…?

geologi-psikologi-neurologi.png

Dalam kajian kosmologi, karakter psikologis seseorang yang hidup di suatu negara dengan 4 musim akan sangat jauh berbeda dengan karakter orang lainnya yang hidup di negara dengan 2 musim. Secara lebih jauh bisa dikatakan, akan ada perbedaan pola kehidupan antara keduanya, baik dalam hal pengaturan waktu, penggunaan pakaian, pekerjaan, hasil bumi, kebiasaan, aturan hukum, adat istiadat, kebudayaan dan lain sebagainya. Inilah yang membentuk karakter psikologis seseorang.

Orang Amerika dengan kebudayaan mereka yang sangat materialis, dipengaruhi oleh kondisi iklim mereka yang mengalami 4 musim. Dimana dalam dua musim pertama atau 6 bulan pertama mereka harus bekerja keras, mengumpulkan dan menyimpan hasil pertanian dan lain sebagainya serta mengatur penggunaannya agar dapat menyimpannya sebagai bahan makanan cadangan untuk 6 bulan berikutnya, dimana pada 6 bulan berikutnya mereka akan mengalami 2 musim yang membuat aktivitas mereka berkurang dan mereka tidak bisa melakukan pertanian pada musim itu (Winter atau musim salju).

Sementara, di Indonesia yang hanya mengalami 2 musim saja setiap tahunnya akan memiliki perbedaan pola kehidupan. Salah satunya orang Indonesia memiliki lebih banyak waktu untuk bersantai dan tidak harus memperhitungkan datangnya musim salju dan melakukan serangkaian cara untuk menginisiasikan pemenuhan kebutuhan akan pangan selama musim itu. Orang Indonesia hanya perlu mengatur sistem irigasi sawah dan perkebunan mereka, karena panjangnya musim kemarau pada puncaknya bisa memberikan dampak kekeringan yang dahsyat. Juga pada musim penghujan, curahnya bisa melampau kapasitas penampungan yang ada sehingga mengakibatkan banjir.

Pola dasar kecenderungan orang Indonesia dipengaruhi oleh kondisi geologi dan arkeologinya. Secara umum hampir kita semua mengetahui bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang paling banyak memiliki gunung berapi dan mendapatkan julukan Ring of Fire. Api adalah elemen atau unsur alam yang sangat mempengaruhi karakter orang-orang Indonesia. Api sering dikaitkan dengan emosional, dimana ketika api membesar dan tak terkendali maka diibaratkan sebagai sebuah amarah yang tak terkendali. Sementara ketika api bisa dikendalikan dan digunakan sesuai kebutuhan maka diibaratkan dengan emosi yang stabil, hangat, penuh kasih sayang (emosional) dan memberikan kenyamanan. Bisa kita lihat karakter itu jelas nampak menjadi sifat umum orang Indonesia, yang lemah lembut, ramah tamah dan hangat.

Itulah mengapa orang Indonesia sangat mudah dipancing emosionalnya oleh berbagai isu atau berita, karena rata-rata dan hampir keseluruhan orang Indonesia karakter psikologisnya dipengaruhi oleh kondisi yang telah dijabarkan di atas. Sehingga menjadi jelas juga bagi kita, bahwa antara orang Amerika dan orang Indonesia memiliki perbedaan dalam merespon suatu berita atau kejadian yang terjadi dengan pola kejadian yang sama. Karena sejatinya pola psikologis yang mempengaruhi orang Amerika dan orang Indonesia berbeda.

Tinjauan ini berdasarkan pada perbandingan karakter Psikologis orang Amerika dan orang Indonesia, yang secara lebih jauh tentu memiliki hubungan juga dengan cara keduanya menyikapi sesuatu. Karena kondisi psikologis orang pada hari ini disebut sebagai kondisi Fenotipe, dibentuk berdasarkan 20% potensi bawaan (kecerdasan otak) dan 80% lingkungan. Dalam kondisi ini berlaku hukum yang sedikit mengendalikan yang banyak. Potensi genetik (kecerdasan otak) akan mengambil peran lebih besar dalam pembentukkan karakter psikologis seorang.

Sekian, mudah-mudahan bermanfaat… Insya Allah akan ada lanjutannya…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s